Friday, 13 January 2017

TUGAS RPP KURIKULUM 2O13



CONTOH RPP EKONOMI


Sekolah                       : SMA Negeri 1 Batang
Mata Pelajaran            : Ekonomi
Kelas/semester            : XI / Genap
Tema/Topik                 : Indeks Harga dan Inflasi
Alokasi Waktu            : 3 x 45 menit (2 kali pertemuan)

A.    Kompetensi Inti (KI)
KI 1
:
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2
:
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3
:
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metacognitive berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4
:
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

B.     Kompetensi Dasar & Indikator
Kompetensi Dasar
Indikator
1.1  Mensyukuri pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia untuk kesejahteraan rakyat
1.1.1    Mengucapkan rasa syukur atas pembangunan dan pertumbuhan ekonomi melalui doa syukur
2.1  Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, mandiri, adil, berani, peduli dan kritis sebagai pelaku ekonomi.
2.1.1    Jujur dalam melaksanakan semua kegiatan;
2.1.2    Disiplin ketika mengikuti pelajaran dan mematuhi tata tertib;
2.1.3    Bertanggungjawab dalam melaksanakan semua tugas;
2.1.4    Menjaga lingkungan hidup di sekitar rumah tempat tinggal, sekolah dan masyarakat.
3.1  Menganalisis indeks harga dan inflasi
3.1.1    Menjelaskan pengertian indeks harga dan inflasi;
3.1.2    Menjelaskan tujuan perhitungan indeks harga;
3.1.3    Memerinci Metode Perhitungan indeks harga
3.1.4    Mengidentifikasi penyebab inflasi;
3.1.5    Mengklasifikasikan jenis-jenis inflasi;
3.1.6    Menganalisis dampak dan cara mengendalikan inflasi
4.1  Mengevaluasi temuan hasil analisis indeks harga dan inflasi
4.1.1    Terampil dalam metode perhitungan indeks harga;
4.1.2    Terampil dalam Menghitung inflasi;
4.1.3    Terampil dalam mengidentifikasi dampak dan cara mengendalikan inflasi.

C.    Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
1.1  Peserta didik melakukan doa sebelum dan sesudah pelajaran
1.2  Peserta didik mampu mampu mengucapkan syukur ketika telah menyelesaikan sesuatu
2.1  datang tepat waktu dalam mengumpulkan tugas
2.2  Peserta didik peduli terhadap kebersihan kelas
2.3  Peserta didik mampu aktif dalam kegiatan pembelajaran maupun diskusi kelompok
2.4  Peserta didik mampu menghargai dan menghormati pendapat teman
2.5  Peserta didik mampu kritis dalam menyelesaikan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran
3.1  Peserta didik mampu menjelaskan pengertian indeks harga dan inflasi
3.2  Peserta didik mampu menjelaskan tujuan perhitungan indeks harga
3.3  Peserta didik mampu memerinci metode perhitungan indeks harga
3.4  Peserta didik mampu mengidentifikasi penyebab inflasi
3.5  Peserta didik mampu mengklasifikasikan jenis-jenis inflasi
3.6  Peserta didik mampu menganalisis dampak dan cara mengendalikan inflasi
4.1  Peserta didik terampil dalam metode perhitungan indeks harga.
4.2  Peserta didik terampil dalam Menghitung inflasi.
4.3  Peserta didik terampil dalam mengidentifikasi dampak dan cara mengendalikan inflasi.

D.    Materi Pembelajaran
1.      Materi Reguler:
1.1  Pengertian indeks harga dan inflasi
1.2  Tujuan perhitungan indeks harga
1.3  Metode perhitungan indeks harga
1.4  Penyebab dan jenis-jenis inflasi
1.5  Dampak dan cara mengendalikan inflasi
2.      Materi Remidial:
2.1  Pengertian indeks harga dan inflasi
2.2  Tujuan perhitungan indeks harga
2.3  Metode perhitungan indeks harga
2.4  Penyebab dan jenis-jenis inflasi
2.5  Dampak dan cara mengendalikan inflasi

3.      Materi Pengayaan :
3.1  Menganalisis dampak dan cara mengendalikan inflasi
3.2  Menghitung indeks harga

E.     Pendekatan dan Model Pembelajaran
Pendekatan           : Scientific
Model                    : Problem Based Learning (PBL)
Metode                  : Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab

F.     Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
1.      Media                         : Power Point, Video, Gambar
2.      Alat/Bahan                 : Laptop, LCD, Penghapus, White Board, Spidol.
3.      Sumber Belajar         :
a.       Suparmin, Sari Dini Astuti, Hery Sawiji. 2014. Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas XI. Surakarta: Mediatama.
b.      Ismawanto. 2009. Ekonomi Untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta; CV Gema Ilmu
c.       Mulyani Sri Nur, dkk. 2009. Ekonomi Untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta; Cakra Media.
d.      Sukardi. 2009. Ekonomi Untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta; Grahadi
e.       Supriyanto, Muhson Ali. 2009. Ekonomi Untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta; Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

G.    Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
No.
Kegiatan Pembelajaran
Sintak
Uraian Kegiatan
Alokasi Waktu
1.
Kegiatan awal

a.       Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa bersama
b.      Guru memeriksa kehadiran peserta didik dan menanyakan  kepada peserta didik kesiapan dan kenyamanan untuk belajar
c.       Guru mengulas sepintas dan melakukan tanya jawab materi yang lalu
d.      Guru menginformasikan tujuan yang akan dicapai selama pembelajaran yaitu memperluas pengetahuan tentang indeks harga
e.       Guru menyampaikan secara garis besar materi yang akan disajikan selama pembelajaran
f.        Guru memberi motivasi kepada peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran
15 Menit
2.
Kegiatan Inti
Mengorientasi peserta didik pada masalah.
Mengamati
Guru memfasilitasi masalah, peserta didik ditugasi mengamati masalah tersebut.
100 Menit
Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran
Menanya
Peserta didik mengajukan pertanyaan mengenai penjelasan yang telah diberikan oleh guru.
Membimbing Penyelidikan Mandiri.
Mengeksplorasi
Peserta didik diminta untuk melakukan mengingat harga-harga barang/jasa yang sering mereka gunakan 5-10 tahun yang lalu hingga sekarang dan kemudian membuat tabelnya
Mengembangkan dan menyajikan karya analisis dan evaluasi
Mengasosiasi
a.       Peserta didik berdiskusi menguraikan informasi yang diperoleh tentang materi indeks harga
b.      Peserta didik menganalisis hasil diskusinya dan kemudian menghubungkan dengan rumus indeks harga dengan menggunakan metode Laspeyres dan Pasche

Mengkomunikasi
a.         Peserta didik menjelaskan hasil diskusi kelompok dalam bentuk tulisan.
b.         Guru memberikan pendapat, masukan, tanya jawab selama proses diskusi
3
Kegiatan Penutup


a.       Guru dan peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran
b.      Guru melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran
c.       Guru memberikan evaluasi setelah proses pembelajaran selesai
d.      Guru menyampaikan materi pembelajaran pada pertemuan berikutnya
10 menit

Pertemuan 2
No.
Kegiatan Pembelajaran
Sintak
Uraian Kegiatan
Alokasi Waktu
1.
Kegiatan awal

a.       Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa bersama
b.      Guru memeriksa kehadiran peserta didik dan menanyakan kepada peserta didik kesiapan dan kenyamanan untuk belajar
c.       Guru mengulas sepintas dan melakukan tanya jawab materi yang lalu
d.      Guru menginformasikan tujuan yang akan dicapai selama pembelajaran yaitu memperluas pengetahuan tentang indeks harga
e.       Guru menyampaikan secara garis besar materi yang akan disajikan selama pembelajaran
f.        Guru memberi motivasi kepada peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran
15 Menit
2.
Kegiatan Inti
Mengorientasi peserta didik pada masalah.
Mengamati
Guru memfasilitasi masalah, peserta didik ditugasi mengamati masalah tersebut.
100 Menit
Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran
Menanya
a.       Peserta didik mendiskusikan dalam kelompok untuk merumuskan pertanyaan berdasarkan hal-hal yang ingin diketahui dari hasil pengamatan kasus. Pertanyaan diarahkan pada hal-hal yang substantif terkait dengan tujuan pembelajaran.
b.      Satu di antara peserta didik dari wakil kelompok menuliskan rumusan pertanyaan di papan tulis.
c.       Peserta didik mendiskusikan dengan kelompok untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang diketahuinya.
Membimbing Penyelidikan Mandiri.
Mengeksplorasi
Setiap peserta didik dalam satu kelompok mengumpulkan informasi/data untuk menjawab satu pertanyaan yang telah dirumuskan dari berbagai sumber, seperti: membaca buku peserta didik, mencari di internet.
Mengembangkan dan menyajikan karya analisis dan evaluasi
Mengasosiasi
g.      Setiap peserta didik mengolah dan menganalisis data atau informasi yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber untuk menjawab satu pertanyaan yang telah dirumuskan.
h.      Setiap peserta didik menyampaikan kepada anggota di kelompoknya terkait dengan jawaban atas pertanyaan yang ditugaskan. 
i.        Secara bersama-sama peserta didik merumuskan secara tertulis jawaban dari hasil diskusi kelompok.

Mengkomunikasi
a.       Dipilih secara acak satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok.
b.      Kelompok lain memberi tanggapan atas hasil simpulan kelompok yang presentasi.
c.       Guru memberikan pendapat, masukan, tanya jawab selama diskusi.
d.      Guru menjelaskan/ mempresentasikan hasil diskusi/ praktik dalam bentuk tulisan.
3
Kegiatan Penutup


a.       Guru dan peserta didik menyimpulkan bersama mengenai materi inflasi
b.      Guru menginformasikan materi untuk pertemuan berikutnya
c.       Guru memberikan pesan untuk tetap belajar dan meningkatkan semangat belajar
d.      Menutup pelajaran dengan berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
10 menit

H.    Penilaian
1.      Jenis/Teknik Penilaian:
a.      Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Jenis/Teknik Penilaian                                    : Tes tertulis
Bentuk Instrumen dan Instrumen                   : Soal
Butir Instrumen & Pedoman Penskoran         : (terlampir)
b.      Penilaian Kompetensi Keterampilan
Jenis/Teknik Penilaian                                    : Penugasan
Bentuk Instrumen dan Instrumen                   : Soal penugasan dan presentasi
Butir Instrumen & Pedoman Penskoran         : (terlampir)







Mengetahui:                                                                Batang, 9 Oktober 2016
Kepala Sekolah                                                           Guru Mata Pelajaran,




Siti Izmuzaroh, S.Pd., M.Pd.                                      Devi Prastika Setyowati, S.Pd.
NIP. 12121008 1995709 1 3212                                 NIM 7101414371
LAMPIRAN 1 MATERI AJAR
LEMBAR MATERI

INDEKS HARGA DAN INFLASI
1.   Definisi Indeks Harga
      Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index) sering digunakan untuk memantau berbagai perubahan biaya hidup dari waktu ke waktu. Indeks Harga Konsumen adalah ukuran keseluruhan biaya yang harus dibayarkan oleh seorang konsumen untuk mendapatkan berbagai barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
      Indeks harga adalah angka yang dapat dipakai untuk memperlihatkan perubahan mengenai harga-harga barang, baik harga untuk satu macam barang atau beberapa macam barang. Di Indonesia, lembaga yang menghitung Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk dapat menghitung IHK diperlukan data dan informasi yang luas, yang diperoleh dari survei biaya hidup berdasarkan harga pasar untuk berbagai macam barang dan jasa yang mencerminkan pola konsumsi masyarakat.
2.   Macam-macam Metode Perhitungan Angka Indeks
      Untuk menghitung indeks harga ada dua cara, yaitu cara sederhana dan cara tertimbang.
j.        Cara Sederhana
      Perhitungan indeks harga barang cara sederhana dilakukan dengan cara menjumlahkan harga barang dan jasa setiap tahun dibagi dengan harganya pada tahun dasar. Kemudian rasio ini dikalikan 100. Jika dirumuskan sebagai berikut:

Atau

k.      Cara Tertimbang
      Dalam menghitung angka indeks tertimbang ada beberapa metode perhitungan yaitu,
1)      Metode Laspeyres
        Perhitungan dengan metode ini dilakukan dengan cara menjumlahkan harga barang dan jasa setelah dikalikan dengan kuantitasnya pada tahun dasar. Rasio ini dikalikan 100%.

IL   = indeks Laspeyres
Pn   = harga pada tahun ke-n
Po   = harga pada tahun dasar
     = jumlah
Qo  = kuantitas pada tahun dasar

2)      Metode Pasche
        Merupakan metode perhitungan angka indeks tertimbang dengan menggunakan faktor penimbang kuantitas barang pada tahun yang dihitung angka indeksnya (Qn).
IP    = indeks Pasche
Qn  = kualitas pada tahun ke-n

3)      Metode Fisher
        Merupakan metode perhitungan angka indeks tertimbang dengan cara mencari rata-rata Indeks Laspeyres dan Indeks Pasche.
        IF        = √       IL x IP x 100%         
        IF        = indeks Fisher           
        IL        = indeks Laspeyres
        IP        = indeks Pasche
3.   Definisi Inflasi
      Inflasi merupakan salah satu aspek kinerja makroekonomi yang paling diperhatikan secara cermat, sekaligus merupakan salah satu variabel kunci dalam perumusan kebijakan makroekonomi. Inflasi dapat dirumuskan sebagai kenaikan harga umum, yang bersumber pada terganggunya keseimbangan antara arus uang dan arus barang. Laju inflasi (inflation rate) adalah persentase perubahan tingkat harga pada suatu waktu tertentu dibandingkan dengan tingkat harga pada periode sebelumnya.
4.   Penyebab Inflasi
a.       Kelebihan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat (money in circulation)
b.      Kekurangan barang yang ditawarkan dalam masyarakat
c.       Permintaan melebihi penawaran (demand pull inflation)
d.      Meningkatnya biaya produksi barang (cost push inflation)
e.       Meningkatnya indeks harga konsumen (consumer price index)
f.        Inflasi dari luar negeri (imported inflation)
5.   Jenis-jenis Inflasi Menurut Penyebabnya
a.      Dilihat dari laju kecepatannya inflasi terbagi tiga, yaitu :
1) Inflasi lunak (mild inflation) adalah inflasi yang kecepatannya kurang dari 5% per tahun.
2) Inflasi cepat (galloping inflation) adalah inflasi yang kecepatannya lebih dari 5% < 10% per tahun.
3) Inflasi meroket (hyperinflation) adalah inflasi yang kecepatannya lebih dari 10% per tahun.
b.      Dilihat dari keparahannya inflasi terbagi empat, yaitu :
1) Inflasi ringan (10% per tahun)
2) Inflasi sedang (10% - 30% per tahun)
3) Inflasi berat (30% - 100% per tahun)
4) Hiperinflasi (> 100% per tahun)
6.   Menghitung Laju Inflasi
a.      GNP deflator
      Cara mengukur laju inflasi ini dengan menggunakan perbandingan GNP nominal dengan GNP riil.  GNP nominal sering disebut dengan GNP berdasarkan tingkat harga yang sedang berlaku sedangkan GNP Riil adalah GNP berdasarkan tingkat harga konstan. GNP deflator dapat diukur dengan Indeks Pasche
Keterangan:
IP  = indeks Pasche
Pn  = harga tahun tertentu (tahun ke-n)
Po  = harga tahun dasar
Qn = kuantitas tahun tertentu (tahun ke-n)
b.      Indeks Harga Konsumen (IHK)
      Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah angka indeks yang menghitung dari kelompok barang yang paling banyak dibeli oleh masyarakat/konsumen.
Keterangan:
IL  = indeks Laspeyres
Pn  = harga tahun tertentu
Po  = harga tahun dasar
Qo = kuantitas tahun dasar
c.       Indeks Harga Produsen (IHP)
      Indeks ini mengukur sekelompok barang yang dibeli oleh produsen yang berupa bahan mentah, barang setengah jadi atau bahan pembantu.
7.   Dampak Inflasi
      Adapun dampak inflasi tersebut adalah
a.       Inflasi dapat menurunkan tingkat pendapatan riil masyarakat suatu negara.
b.      Inflasi dapat menurunkan daya beli masyarakat terdapat barang atau jasa, terutama mereka yang berpenghasilan tetap.
c.       Inflasi dapat mengakibatkan turunnya daya saing akibat tingginya harga.
8.   Cara Mengatasi Inflasi
a.      Kebijakan moneter
a.       Politik diskonto: adalah politik bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dengan jalan menaikkan atau menurunkan tingkat bunga. Misalkan, dengan menaikkan suku bunga maka diharapkan jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang, karena masyarakat cenderung untuk menyimpan uangnya di bank dari pada membelanjakan/investasi.
b.      Politik pasar terbuka: adalah politik yang dilakukan dengan cara menjual atau membeli surat berharga.
c.       Politik persediaan kas: adalah politik bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dengan jalan menaikkan atau menurunkan persentase persediaan kas di bank.
b.      Kebijakan fiskal
1)      Pengaturan pengeluaran pemerintah
        Pemerintah harus menjaga kestabilan anggaran, penggunaan anggaran harus sesuai dengan rencana. Jika pengeluaran melebihi batas yang telah direncanakan akan mendorong peningkatan jumlah uang beredar.
2)      Peningkatan tarif pajak
        Pajak merupakan sumber penerimaan pemerintah yang utama. Dengan adanya kenaikan tarif pajak maka penghasilan rumah tangga akan diberikan kepada pemerintah sehingga daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa menurun selanjutnya inflasi dapat ditekan.
c.       Kebijakan non moneter
1)      Peningkatan produksi
        Adanya peningkatan produksi meskipun jumlah uang bertambah di masyarakat maka inflasi tidak akan terjadi, bahkan bisa dikatakan bahwa hal tersebut merupakan peningkatan kemampuan perekonomian.
2)      Kebijakan upah
        Inflasi yang terjadi bisa dilakukan dengan cara menurunkan pendapatan yang siap untuk dibelanjakan (disposable income) masyarakat yang instrumennya dilakukan dengan peningkatan pajak penghasilan.
3)      Pengawasan harga
        Adanya kecenderungan kenaikan harga yang disengaja oleh para produsen membuat pemerintah melakukan penetapan kebijakan harga maksimum. Namun tindakan pemerintah dapat menimbulkan fenomena pasar gelap (Black Market), yaitu jual beli barang tanpa mengindahkan aturan-aturan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Untuk mengatasi hal ini maka pemerintah melakukan pendistribusian langsung barang- barang kepada masyarakat.
4)      Pendistribusian langsung
        Adanya kecenderungan kenaikan harga pada beberapa jenis komoditas pokok mendorong pemerintah untuk melakukan pendistribusian secara langsung kepada konsumen. Misalkan kenaikan harga beras, minyak tanah karena adanya permainan harga pasar mendorong pemerintah untuk melakukan pendistribusian langsung kepada konsumen.
5)      Kebijakan di bidang perdagangan internasional
        Mengatasi inflasi melalui perdagangan internasional dilakukan pemerintah dengan cara menurunkan bea masuk barang-barang impor, sehingga peredaran jumlah barang di dalam negeri menjadi lebih banyak dan harganya cenderung turun.
LAMPIRAN 2 MEDIA PEMBELAJARAN


LAMPIRAN 3.1
Penilaian Kompetensi Pengetahuan
1.      Penilaian Tes Tertulis (Reguler)
a.      Kisi-Kisi
No.
Indikator
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Butir Instrumen
1
Menjelaskan pengertian indeks harga dan inflasi
Tes Tertulis
Uraian
No. 1
2
Mengklasifikasikan metode perhitungan indeks harga
Tes Tertulis
Uraian
No.2
3
 Menerapkan cara perhitungan inflasi
Tes Tertulis
Uraian
No. 3
4.
Menghubungkan indeks harga dan inflasi
Tes Tertulis
Uraian
No.4
5.
Menganalisis dampak dan cara mengendalikan inflasi
Tes Tertulis
Uraian
No. 5

b.      Soal
1. Jelaskan pengertian indeks harga dan inflasi!
2. Jelaskan metode perhitungan indeks harga dengan cara tertimbang!
3. Harga jenis barang tertentu pada tahun 2003 Rp. 50.000 dan harga pada tahun dasar Rp. 40.000, maka IHK tahun 2003 adalah…
4. Apa hubungan indeks harga dan inflasi?
5. Bagaimana peran pemerintah dalam mengatasi Inflasi?

c.       Kunci Jawaban :
1. Pengertian Indeks Harga
Indeks harga adalah angka yang dapat dipakai untuk memperlihatkan perubahan mengenai harga-harga barang, baik harga untuk satu macam barang atau beberapa macam barang.
Pengertian Inflasi
Inflasi adalah kenaikan tingkat harga secara terus menerus.
2. Berikut metode indeks harga cara tertimbang:
a.    Metode Laspeyres
Perhitungan dengan metode ini dilakukan dengan cara menjumlahkan harga barang dan jasa setelah dikalikan dengan kuantitasnya pada tahun dasar. Rasio ini dikalikan 100%.
b.   Metode Pasche
Merupakan metode perhitungan angka indeks tertimbang dengan menggunakan faktor penimbang kuantitas barang pada tahun yang dihitung angka indeksnya (Qn).
c.    Metode Fisher
Merupakan metode perhitungan angka indeks tertimbang dengan cara mencari rata-rata Indeks Laspeyres dan Indeks Pasche.
3. 50.000
IHK = ———- x 100% = 125%
40.000
4. Hubungan indeks harga dan inflasi
Untuk melakukan perbandingan antara variabel yang sama (misal: produksi, keuntungan, harga, dan sebagainya) dalam dua waktu yang berbeda, diperlukanlah sebuah angka indeks. Melalui angka indeks, kita dapat mengetahui maju mundurnya suatu usaha atau kegiatan, naik turunnya pendapatan, harga, dan sebagainya. Indeks harga merupakan salah satu dasar penghitungan yang digunakan untuk (menentukan inflasi suatu negara).
 5. Peran pemerintah dalam mengatasi inflasi melalui dua acara yaitu:
·       Kebijakan moneter
a.       Politik diskonto: adalah politik bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dengan jalan menaikkan atau menurunkan tingkat bunga.
b.      Misalkan, dengan menaikkan suku bunga maka diharapkan jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang, karena masyarakat cenderung untuk menyimpan uangnya di bank dari pada membelanjakan/investasi.
c.       Politik pasar terbuka: adalah politik yang dilakukan dengan cara menjual atau membeli surat berharga.
·       Kebijakan fiskal
a.       Pengaturan pengeluaran pemerintah
Pemerintah harus menjaga kestabilan anggaran, penggunaan anggaran harus sesuai dengan rencana. Jika pengeluaran melebihi batas yang telah direncanakan akan mendorong peningkatan jumlah uang beredar.
b.      Peningkatan tarif pajak
Pajak merupakan sumber penerimaan pemerintah yang utama. Dengan adanya kenaikan tarif pajak maka penghasilan rumah tangga akan diberikan kepada pemerintah sehingga daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa menurun selanjutnya inflasi dapat ditekan.

d.      Pedoman Penskoran
1.      Skor penilaian
No.
Interval Nilai Pengetahuan
Kriteria Penilaian
1
91-100
Jika jawaban benar, tepat, lengkap, terinci dan jelas
2
81-90
Jika jawaban benar, tepat,  lengkap, terinci dan kurang jelas
3
71-80
Jika jawaban benar,  tepat,  lengkap, tidak terinci dan kurang jelas
4
61-70
Jika jawaban benar, tepat, tidak lengkap, tidak terinci dan kurang jelas
5
51-60
Jika jawaban benar, kurang tepat, tidak lengkap, tidak terinci dan kurang jelas
6
41-50
Jika jawaban hanya sedikit yang benar, tepat, tidak lengkap, terinci dan kurang jelas
7
31-40
Jika jawaban hanya sedikit yang benar, tepat, tidak lengkap, tidak terinci dan kurang jelas
8
21-30
Jika jawaban  hanya sedikit yang benar , kurang tepat, tidak lengkap, tidak terinci dan tidak  jelas
9
11-20
Jika jawaban hanya sedikit yang benar, tidak tepat, tidak lengkap, tidak terinci, dan kurang jelas
10
0-10
Jika jawaban tidak benar, tidak lengkap, tidak terinci, dan tidak jelas

2.  

3.      Tabel Nilai
Interval Skor
Kriteria
91-100
A
A-
81-90
71-80
B+
B
61-70
51-60
B-
C+
41-50
31-40
C
C-
21-30
11-20
D+
D
0-10


LAMPIRAN 3.2 PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN

Lembar Penilaian Presentasi dan Laporan Hasil Diskusi
Nama/Kelompok         : ……
Kelas                           : ……
Materi Pokok              : ……

No.
Aspek Penilaian
Skor
(1-100)
A.
Penyajian

1
Menanya/Menjawab

2
Argumentasi

Jumlah skor


Pedoman Penskoran (rubrik) :
No.
Aspek
Penskoran
1
Menanya/
Menjawab
Skor 86-100, apabila selalu menjawab/menanya
Skor 75-85, apabila sering menjawab/menanya
Skor 65-75, apabila kadang-kadang menjawab/menanya
Skor <60, apabila tidak pernah menjawab/menanya.
2
Argumentasi
Skor 86-100, apabila materi/jawaban benar, rasional, dan jelas.
Skor 75-85, apabila materi/jawaban benar, rasional, dan tidak jelas
Skor 65-75, apabila materi/jawaban benar, tidak rasional, dan tidak jelas
Skor <60, apabila materi/jawaban tidak benar, tidak rasional, dan tidak jelas


Tabel Nilai
Interval Skor
Kriteria
91-100
A
A-
81-90
71-80
B+
B
61-70
51-60
B-
C+
41-50
31-40
C
C-
21-30
11-20
D+
D
0-10

Tuesday, 8 November 2016

Cerpen ''FATAMORGANA KU''






Kaki ku bergetar. Padahal belum genap dua menit aku berdiri disini. Semua mata yang memandangku seakan menjadikan nyaliku semakin menipis. Untuk itu kulakukan kebiasaanku. Mengetukkan kakiku ke lantai.
            “Silahkan…”, sebuah suara membuyarkan lamunanku.
            Ketukan kakiku terhenti. Aku mulai dapat fokus memandangi satu per satu penghuni di ruangan ini. Bibirku yang kaku perlahan dapat ku gerakkan.
            “Aku Monica. Pindahan dari Bogor.”, suaraku sedikit bergetar.
            Kemudian aku berjalan menuju sebuah tempat duduk yang kulihat kosong. Bersama seorang cowok. Ini pertama kalinya aku duduk sedekat ini dengan cowok selain Papa. Canggung? Sudah pasti aku rasakan. Namun beberapa saat kemudian cowok itu mengulurkan tangannya.
            “Gue Andreas. Salam kenal!”, katanya, sambil menyunggingkan bibirnya.
            Aku meraih tangannya, membalas jabatannya yang ramah. Namun aku masih saja tak bisa membuang jauh-jauh rasa canggungku. Memang, kata Papa aku mengidap suatu syndrome yang membuatku selalu merasa canggung terhadap orang-orang dan suasana baru. Termasuk lingkungan baru. Dan tahap penyesuaian diriku memang berbeda dengan orang lain. Waktuku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, suasana dan orang-orang baru terbilang cukup lama. Maka dari itu, sebelum aku masuk ke sekolah umum ini, sejak aku menginjak kelas tiga SD, aku mengikuti Home Schooling. Dari situ aku jarang sekali bertemu orang-orang baru. Hanya kali ini, saat Papa mengatakan bahwa beliau harus dipindah tugaskan ke Bandung, aku terpaksa harus menyesuaikan diri lagi, yang sangat sulit kulakukan.
            “…Papa gue bilang, udah saatnya gue bisa membuka diri dengan orang-orang luar.”, jelasku.
            An, panggilan Andreas, seorang pendengar yang baik. Ia juga cowok yang ramah. Selain mendapat pengakuan dari guru kelas Kimia yang tadi mengajar kami bahwa An adalah murid yang cerdas, kurasa dia punya kelebihan lain. An mampu membuat orang dengan syndrome aneh sepertiku dengan mudah dapat langsung bercengkrama dengannya.
            Sekolah mulai sunyi. Hanya beberapa siswa saja yang masih sibuk mondar-mandir dengan berbagai kesibukannya masing-masing. Tiba-tiba seseorang menghampiriku dengan sepeda putihnya.
            “Nunggu jemputan?”, tanyanya.
            Aku hanya mengangguk.
            “Ikut gue aja. Sekalian, rumah kita kan satu arah.”, An turun dari sepedanya dan duduk disebelahku.
            Ia menengadah ke langit. Lalu sedetik kemudian kembali menatap kearahku. Ia kembali menawarkan ‘jasa’nya. Aku sedikit berfikir. Dan kurasa, tak ada salahnya menerima tawaran An. Aku duduk didepan An. Baru pertama kali ini aku naik sepeda. Sungguh. Apalagi dengan seorang cowok yang belum genap satu hari kukenal. Tapi aku bisa merasakan kenyamanan disisinya. Disisi seorang An.
            Angin berhembus menerpa rambutku. An semakin kencang mengayuh sepedanya ketika kami melewati sebuah tanjakan. Dan, whuuuuuuuu…..! Aku serasa dihempaskan oleh angin dan terbang. Jalan menurun yang cukup membuat perutku sedikit mual. Namun aku begitu senang dan tawa kami sangat lepas.
            Aku berbalik dan menatapnya. Ia tersenyum. Dan seketika waktu seakan berhenti berputar. Berhenti dan semua yang ada juga ikut tak bergerak. Hanya aku dan An yang saling menyunggingkan senyuman satu sama lain. Dan hanya detak jantung juga desah angin yang dapat terdengar. Aku semakin menatap mata cokelatnya lekat-lekat. Ia terlihat sangat indah. Jantungku semakin kencang mengguncang dadaku. Dan…
            “Kita udah sampe.”, sebuah suara membuyarkan lamunanku.
            Aku turun dari sepeda An.
            “Thank’s!”, ucapku pelan.
            An mengangguk dan tersenyum. Sebelum akhirnya dikayuh sepedanya yang terlihat begitu istimewa di mataku. Perasaanku campur aduk. Antara senang, deg-degan, lucu, gembira. Mungkin semua itu seperti sama saja. Namun sungguh, aku merasakan hatiku dipenuhi permen warna-warni. Aku mulai menggabungkan satu demi satu mozaik kejadian hari ini. Saat An tersenyum untuk pertama kalinya padaku. Saat ia mengulurkan tangannya. Saat ia menghampiriku dan saat kami tertawa lepas. Semuanya dapat kuingat dan tergambar jelas. Sampai-sampai aku tersenyum sendiri, dan apa yang Pak Amin, sopir yang sudah enam belas tahun melayani keluargaku, katakan sama sekali tak kugubris.
            “Neng, besok-besok lagi jangan pulang sendirian, ya? Neng Monic tungguin Pak Amin dulu. Ini kan tugas Pak Amin. Kalo Bapak tau eneng pulang sendirian kayak tadi, bisa-bisa Pak Amin di omelin Bapak, neng.”
***
            Aku menjabat tangan Papa dan mencium pipinya sebelum aku turun dari mobil. Aku berjalan riang menuju kelasku. Sekolah masih sepi. Kurasa masih terlalu pagi. Namun aku tak sendirian. An sudah asyik dengan laptopnya. Jari jemarinya asyik menari mengetikkan satu demi satu karakter yang muncul di layar laptopnya. Aku meletakkan tasku dan melirik apa yang sedang dikerjakannya. Sebuah program di Corral Draw sedang asyik dikerjakannya.
            “Bikin apa?”, tanyaku.
            “Bukan apa-apa. Buat mading edisi minggu ini.”, jawab An ramah.
            Aku mengamati pekerjaannya. Selain cerdas, ternyata An juga kreatif, pikirku. Aku duduk disebelahnya. Kupandangi sosok An. Ternyata dia manis juga. Bukan! Bukan hanya manis, melainkan dia adalah makhluk Tuhan yang sempurna. Dan aku rasa, aku jatuh…
            “Udah pilih ekskul?”, tanya An seketika.
            Aku kembali tersadar dari fatamorgana akan sosok An. Sesaat kemudian, aku menggeleng. An menyodorkan selembar kertas tentang ekstrakulikuler mading.
            “Kalo minat gabung aja. Mmm… kebetulan gue ketua ekskulnya.”, ungkap An, sebelum akhirnya ia tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
            Langit mengatup. Suasana langit senja mulai memayungi Bandung. Aku duduk di lobby sekolah menunggu seseorang. Kali ini bukan Pak Amin yang kutunggu. Berulang kali kulirik jam tanganku. Pukul lima sore. Aku kembali melihat ke sekeliling. Sekolah sudah sangat sepi. Tapi aku akan tetap disini. Tak lama kemudian, sosok yang kunantikan datang juga. Aku bangun dari tempatku dan menghampirinya. An menghentikan laju sepedanya.
            Entah mengapa tiba-tiba nafasku terasa sesak dan jantungku berdegup satu juta kali lebih cepat. Apa yang kulakukan ini terlihat seperti gadis murahan? Ah, semoga tidak. Dan sepertinya An sudah tahu maksudku. Ia mempersilakan aku membonceng sepedanya.
            Sepeda An meluncur cepat. Malam mulai menggelayuti dan dinginnya udara Bandung mulai menyergap. Tujuan kami sebelum pulang adalah café mini yang tak jauh letaknya dari sekolah. Hari ini aku memang sengaja ‘menyewa’ An untuk menemaniku jalan-jalan. Kupikir, tak ada salahnya juga aku menyesuaikan diri dengan apa yang ada di Bandung. Bukan hanya orang-orang dan lingkungan sekitarku saja.
            Kami sampai di tempat tujuan kami. Café mini yang menyuguhkan beraneka macam kue-kue kecil manis. Namun seketika aku merasa syndrome ku kembali. Melihat sebegitu banyak manusia-manusia didepan mataku, aku seakan ingin mundur. Nyaliku kembali menipis. Rasanya ingin sekali aku berteriak dan lari. Namun An menggenggam erat tanganku. Ia menatap mataku lekat-lekat dan meyakinkanku semuanya akan baik-baik saja. Dia akan selalu ada didekatku.
            Kakiku kembali bergetar. Sekali lagi, aku harus mengetukkan kakiku beberapa kali agar rasa tegang yang kualami tidak terlalu parah. An kembali menatapku lekat-lekat dan sedetik kemudian tersenyum untukku. Cukup dengan senyumnya, kurasa aku bisa dengan mudah menghilangkan rasa takut dan canggungku. Aku kini merasa benar-benar aman. Setelah kutarik nafas sedalam mungkin, aku mulai merasa semuanya baik-baik saja selama ada An. Dan malam itu, kami bisa mengobrol hangat cukup lama.
            Malam tak terlalu berpihak pada kami. Suasana Bandung yang seharian berawan akhirnya diakhiri dengan hujan. Cukup deras memang. Dan terpaksa kami harus berteduh sejenak di teras café karena café sudah tutup. Aku mulai menggigil. Sekujur tubuhku basah oleh hujan. An terlihat mengambil sesuatu di tasnya dan dikeluarkannya sebuah jaket yang langsung dipakaikannya padaku. Aku merasa seperti ada dalam sebuah adegan di film-film romantis. Dan tak kusangka ternyata An juga menggenggam tanganku cukup erat. Sesekali diusapnya tanganku untuk membuatku merasa hangat. Apakah ini benar nyata terjadi padaku? Atau hanya mimpi? Kalau ini mimpi, aku minta izin untuk tidak dibangunkan selama beberapa waktu. Namun jika benar terjadi dalam kehidupan nyataku, biarkan ini berlangsung lama. Maksudku, biarlah hujan ini semalaman terus mengguyur dan tak jua reda. Agar semalaman ini juga aku dapat berada disisi An dan merasakan hangatnya tangan An.
            “Aaahhhh!”
            Tiba-tiba suara petir bergema dan memekakkan telingaku. Aku pejamkan mataku dan sesaat setelah bunyi petir itu menghilang, aku baru sadar ternyata aku sudah ada di dekapan An. Aku merasakan hangat dan aroma tubuh An yang khas. Tak lama kemudian kami saling pandang. Ia menatap mataku lekat-lekat. Aku juga memandang mata coklatnya yang indah. Dan perlahan ia semakin mendekatiku. Jantungku kembali menabuhkan genderang. Aku menelan ludahku dengan berat. Kini jarak antara wajah An dan aku benar-benar sudah sangat dekat. Sampai-sampai setiap desahan nafasnya yang beradu terdengar di telingaku. Aku hanya dapat berdiri diam tak dapat bergerak. Entah kedua kakiku kaku karena dinginnya malam ini atau karena An. Perlahan namun pasti, jarak kami sudah melebihi dari dekat. Aku pejamkan kedua mataku dan berusaha menikmati apa yang terjadi; dentum detak jantung yang semakin menjadi juga desahan nafasku dan An yang saling beradu.
            Shraaaassssshhh!!
            Sebuah mobil sedan melaju cepat dan mencipratkan genangan air kearahku dan An. An sedikit berjingkat dari tempatnya. Ia sedikit melirikku namun kali ini agak sedikit canggung. Seragam putihku seketika berubah menjadi coklat muda. Perutku cukup geli dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tertawa kecil sambil melirik kearah An. An balas menatapku yang tertawa geli. Ia menggaruk kepalanya dan beberapa saat kemudian ikut tertawa, walau masih tersirat kecanggungan di wajahnya.
***
            Aku berjalan riang sambil bernyanyi kecil. Menenteng sebuah kantung plastik berisikan beberapa makanan kecil dan minuman. Kakiku melangkah menuju sebuah ruangan di sudut sekolah. Pintunya sedikit terbuka. Kulihat kesekeliling, namun yang ada hanya sebuah laptop yang masih terbuka. Aku mendekatinya, meletakkan bawaanku diatas meja kerja. Kuletakkan jari-jariku diatas keyboard. Disini biasanya jemari An asyik menari sambil menuangkan inspirasinya. Aku tersenyum. Namun seketika aku sedikit berjingkat. Terlihat noda darah di jari-jariku. Tapi aku tidak sama sekali terluka. Aku kembali melihat dan mengamati keyboard laptop An. Dan benar saja, ada beberapa tetes noda darah disana. Aku mulai celingukan. Seketika seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik dan mendapati sosok An yang sedang menyumpat lubang hidungnya dengan tisu.
            Ia kemudian mengambil tas belanjaan yang kubawa dan mengambil dua pocary. An masih diam. Dan aku mengamatinya lebih dalam.
            “Kenapa?”, tanyaku.
            “Gak.”, nadanya terkesan dingin.
            Aku menarik tangan An ketika ia hendak keluar ruangan. Ia menatapku. Masih tak bersuara. Aku seakan terjebak dalam suasana hening yang tak bertepi.
            “Mimisan lagi?”, aku tertunduk lesu, masih memegangi tangan An erat.
            An berusaha melepaskan genggamanku yang semakin erat. Dan ia berhasil. An melenggang menjauh dariku.
            “Aku cuma gak pengen kamu kenapa-napa. Cukup check up ke dokter udah gitu doang, kan? Kenapa susah banget!”, aku bangun dari tempat dudukku.
            An menghentikan langkahnya. Dalam hening aku terisak. Entah apa alasanku sampai air mataku bisa meluap seperti ini. Akhir-akhir ini An memang sering sekali mimisan. Dan aku juga merasa sifatnya banyak berubah terhadapku. Lima bulan sudah aku dan An menjalin sebuah hubungan special, namun baru akhir-akhir ini sikap An menjadi dingin tak bersahabat. Tanganku meraih tangan An dan menggenggamnya erat. Ditengah keheningan An menarikku dalam dekapannya. Ia mengusap pundakku pelan.
            “Semuanya baik-baik aja. Jangan khawatirin aku terlalu berlebihan. Oke?”, ucapnya lembut.
            Aku menenggelamkan kepalaku dalam dekapan hangat An. Dan semakin erat aku memeluknya.
***
            Kincir angin, komedi putar, serta hampir semua wahana di dunia fantasi ini sudah aku dan An jamahi. Hari ini An memang sengaja mengajakku ke taman hiburan hanya berdua. Bisa dibilang ini adalah kencan. Lima bulan menjalin sebuah hubungan dan inilah kali pertama kami nge-date. Agak aneh memang, tapi karena kesibukan kami masing-masing jadi urusan seperti ini kami kesampingkan terlebih dahulu. Walaupun aku banyak sekali mendapat kekecewaan.
            Petang menjelang. Namun rasanya aku tak mau beranjak dari tempat ini. Apalagi harus berpisah dengan An walau hanya semalam.
            “Mmh, haus gak? Aku beli soda bentar, ya?”, kataku yang langsung berlari meninggalkan An.
            Tak butuh waktu lama. Aku kembali dengan membawa dua kaleng soda kesukaan An. Kusodorkan satu untuknya yang berdiri memunggungiku. Namun ia tak menggubris kata-kataku. Aku menarik pundaknya lebih keras dan aku terkejut melihat hidung An yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah.
            “Kita ke rumah sakit sekarang. Gak ada tapi-tapian!”, paksaku tegas.
            Kami tiba disebuah klinik milik Om An. An memintaku membawanya kesana daripada ke rumah sakit. Kini An benar-benar pucat. Jarum infuse terpasang di tangan kirinya. Nafas An naik turun seiring dengan detik yang terus berputar. Namun ia menggenggam erat tanganku dan tersenyum.
            “Udah. Aku bilang kan semuanya baik-baik aja. Gak per…”
            “Gak perlu khawatirin kamu! Apa kamu udah gila?”, potongku segera.
            Aku tertunduk lesu. Aku terisak dan tubuhku terguncang semakin kuat. Aku tak kuasa menahan tanggul air mataku ketika dokter yang juga Om An mengatakan bahwa sepupunya itu mengidap leukemia atau kanker darah.
            “Stadium empat. Dan An masih tidak mau untuk menjalani kemo therapy.”, jelas dokter.
            Bibirku kelu mendapati apa yang terjadi. Aku serasa terhempas sebuah badai hebat yang membawaku ke negeri antah-berantah. Aku memeluk An yang masih terbaring. Dan kembali menitikkan air mataku.
***
Aku memandangi An yang berusaha menelan satu per satu  berbagai macam obat untuk penyakitnya. Ia terlihat begitu menikmatinya dan menganggap semua obat itu seperti sebuah permen warna-warni yang manis. Namun, dapat kurasakan, An begitu tersiksa. Hingga akhirnya kurebut berbagai obat yang ada ditangannya dan aku menelannya. An nampak terkejut. Wajahnya yang semakin hari bertambah pucat itu pun memandangiku. Aku masih berusaha menelan semua obat An. Hingga akhirnya An menghentikanku. Suasana kembali hening. Aku kembali terisak. Nafasku mulai sesak menahan air mata yang sedari tadi kutahan.
"Cukup, Dan!", ucap An tegas.
An menarikku dan memelukku erat. Dalam dekapannya dapat kudengar isakan An yang juga tertahan. Ia mengusap lembut rambutku. Mencium keningku.
Malam semakin larut. Dan keadaan pun menjadi lebih baik. Kini aku terbaring dan bersandar di lengan An. Tangannya masih membelai lembut rambutku. Kami memandangi bintang di langit. Begitu indah.
"Kalau aku pergi nanti, aku janji akan jadi bintang kamu yang paling terang.", ucap An sambil menyunggingkan senyumannya.
Aku tak bisa membalas kata-katanya. Bibirku seakan beku. Hanya air mata yang dapat menggambarkan suasana hatiku malam ini. Aku benar-benar tak tahu apa yang  harus kulakukan. Menangis memang tak akan mengembalikan keadaan menjadi seperti semula. Seperti pada saat aku dan An selalu dipenuhi dengan canda tawa setiap harinya. Saat An selalu membawaku puas mengelilingi Bandung dengan sepedanya.
Aku memeluknya. Memeluk An dengan erat dan tak ingin sedetikpun melepasnya. Aku merindukan masa-masa itu. Masa-masa yang sepertinya hanya beberapa menit berlalu.
"Aku sayang sama kamu. Sama seorang gadis yang bernama Monica Shamita. Sayang banget!", An balas memelukku.
Aku sedikit tersenyum.
"Aku juga. Aku juga sayang kamu. Sama seorang cowok yang bernama Andreas Prama Putra. Sayaaaang banget.", balasku.
***
'Angin bertiup lembut. Membawa indahnya fatamorganaku kesebuah ruang tak bertepi. Aku terpaku. Menantikan sebuah angan konyol. Angan akan fatamorganaku yang nyata. Aku merasa diriku bagaikan sebatang pohon. Yang berdiri tegap dihantam badai. Namun berkali-kali badai menerjangku, sebuah pohon yang berdiri tegap, akhirnya kutemui sebuah titik dimana sang waktu yang akan menghempasku.
Daun-daunku beterbangan ditiup angin. Satu persatu meninggalkanku. Hingga akhirnya hanya sehelai daun kering di ujung dahanku yang menemani. Namun ia berbisik, "aku harus mengikuti kemana angin akan menerbangkanku". Ia terbang. Meninggalkanku dalam kesepian.
Dalam sebuah kesedihan, fatamorganaku datang. Membelai lembut dan berbisik, "Aku disini, fatamorgana yang dulu hanyalah sebuah anganmu, akan menjadikan diriku sebagai daun-daun yang telah meninggalkanmu. Dan aku tak akan pernah layu.'
Dalam keheningan, ia bersandar. Mengikatkan suatu arti kebahagiaan yang tak lagi hanyalah sebuah fatamorgana semu.'
Aku meremas kuat selembar kertas ditanganku. Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata. Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Disebuah bangku taman panjang ini aku termenung. Hening, sunyi. Desah nafas dan harum tubuh An seakan masih dapat kurasakan. Aku merindukan sosok An. Aku ingin menggenggam tangannya. Memeluknya dan berjuta kali mengucapkan janji bahwa aku mencintainya.
Langit semakin redup. Aku menengadah di bawah sang jingga. Sebuah bintang nampak berkelap-kelip. Lebih terang dibanding bintang yang lainnya. Perlahan senyumku mengembang. Tanganku berusaha menggapai bintang itu. Aku merasa seakan bintang itu tersenyum ramah kearahku. An, sosok yang kurindukan. Janjinya yang akan selalu menjadi sebuah bintang paling terang untukku telah ditepatinya.
Hembusan angin malam itu terasa bagai belaian lembut An. Aku mulai menerima apa yang telah terjadi. An tidak benar-benar pergi. Dia tak meninggalkanku.
"Terimakasih An. Terimakasih untuk segalanya.", bisikku kepada sang bintang  yang menemaniku malam ini.